Selasa, 12 November 2013

Karya Ilmiah Produk Gas ELPIJI di wilayah Bekasi         
                            
Produk  pertamina gas elpiji
Bab I Pendahuluan
1.1 latar belakang
Dengan semakin bertambahnya populasi penduduk dunia, menyebabkan kebutuhan akan sumber daya alam, terutama minyak bumi semakin meningkat. Hal ini berdampak langsung terhadap perekonomian Indonesia.
beberapa bulan terakhir ini masyarakat kembali harus mengantri minyak tanah. Meskipun negeri ini adalah penghasil minyak bumi dan sudah merdeka 62 tahun, namun masalah kebutuhan rumah tangga yang sangat vital ini ternyata belum bisa dipecahkan. Kondisi ini sangat memprihatinkan.
Dengan itu pemerintah mengambi jalur alternatif atas masalah yang melanda negeri ini dengan cara memberitahu masyarakat untuk memakai gas, dikarenakan minyak bumi yang sudah langka dan untuk menghindari antrian pembeian minyak tanah.
Dikarenakan harga gas mahal, dan dulu cuma ada yang ukuran 12 kg yang paling kecil, itu tidak terjangkau dikalangan masyarakat menengah kebawah. Dan pemerintah membuat lah solusi lagi dengan cara membuat tabung yang lebih kecil yaitu gas dengan ukuran 3 kg. pemerintah pun memberikan subsidi pada gas 3 kg dengan membagikan gas gas 3 kg tersebut ke masyarakat menengah kebawah. Dan yang terjadi pada pengalaman saya awal mulai saya memakai gas yaitu :
            Sejak tahun 1998 dirumah saya sudah memakai kompor yang menggunakan gas, yaitu saya menggunakan gas elpiji, dikarenakan gas elpiji lebih praktis dan cepat mematangkan sebuah masakan di bandingkan kita harus memakai kompor minyak, yang minyaknya sekarang sudah langka, dari situlah saya tertarik memakai gas elpiji.
            Semakin lama gas semakin banyak ukurannya. Yaitu gas yang sering dipakai di perumahan perumahan adalah gas elpiji ukuran 3 kg dan 12 kg. dan di jaman sekarang orang orang banyak yang memakai gas elpiji.
1.2 Rumusan masalah
Dari latar belakang pada 1.1 maka masalah yang akan saya bahas adalah sebagai berikut :
1.      Apa faktor-faktor yang mempengaruhi gas elpiji?
2.      Apa faktor-faktor yang mendukung gas elpiji?
3.      Apa faktor-faktor yang menghambat gas elpiji?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi gas elpiji
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mendukung gas elpiji
3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menghambat gas elpiji

1.4 Metode Penelitian
·         Deskriptif
·         Kajian pustaka yang di lakukan dengan mencari di internet

Bab II Kerangka Teori
2.1 Faktor yang berpengaruh :
KERAGUAN Beberapa kalangan tentang kinerja BUMD milik Kabupaten Bekasi, PT. BBWM (Bina Bangun Wibawa Mukti) terjawab sudah. PT. BBWM telah melakukan sebuah trobosan besar dengan melakukan kerjasama pengelolaan gas bersama PT. Pertamina Gas (Petragas), anak perusahaan PT. Pertamina yang khusus mengurusi produksi gas. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Utama PT. BBWM, Mohamad Cholid, disela-sela acara pemberian santunan anak yatim di Kecamatan Babelan, Rabu, (29/7).

Cholid mengatakan, PT. BBWM dan Petragas, telah membuat kesepakatan kerjasama pengelolaan dan pemanfaatan gas hasil PT. Pertamina EP di Kabupaten Bekasi, pada Selasa (28/7). Isi perjanjian kerjasama diantaranya adalah, ekstrasi C 3 dan C 4 menjadi elpiji, membangun stasiun pengisian bulk elpiji (SPBE) dan membangun kilang elpiji, serta ikut mensukseskan program pemerintah dalam rangka pengembangan gas kota.

“PT. BBWM baru punya satu kilang pengelolaan elpiji. Bersama Petragas kita akan bangun satu kilang pengolahan elpiji” ujar Cholid.

Selama ini, kata Cholid, PT. BBWM hanya mampu mengelola 15 MMSCFD (million metric standard cubic feet per day) atau setara dengan 110 ton elpiji perhari, setara 70 ribu liter kondensat yang didistribusikan ke PLTGU Muara Tawar. Padahal kandungan potensi gas yang keluar dari bumi Bekasi mencapai 36 MMSCFD atau sekitar 250 ton elpiji perhari. Dengan penambahan kilang baru ini, tambah Cholid, diharapkan ekstrasi gas produksi PT.Pertamina EP akan dapat dioptimalkan.

Cholid menegaskan, dengan bertambahnya satu kilang pengelolaan elpiji dan pembangunan infrastruktur, diharapkan pada akhir tahun 2010 program gas kota di wilayah Kabupaten Bekasi dapat terlaksana. Kilang baru ini, kata Cholid, akan dibangun di wilayah Kecamatan Babelan, berdekatan dengan stasiun pengumpul PT. Pertamina EP Region Jawa Field Subang. “Kita akan bangun berdekatan dengan kilang elpiji milik BBWM yang berada di Kecamatan Babelan” ujar Cholid.

Cholid optimis, proyek kerjasama dengan Pertagas ini akan sangat menguntungkan bagi BBWM dan Pemda Kabupaten Bekasi. Gas yang tadinya terbuang sia-sia, bisa dikelola sehingga hasil produksi mencapai dua kali lipat dari saat ini. Peningkatan hasil produksi ini, juga akan meningkatkan sumbangan BBWM kepada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bekasi. Yang pada tahun 2008 lalu, telah menyumbang PAD sebesar Rp. 20,5 milyard. “Kita targetkan keuntungan dua kali lipat dari yang sekarang” pungkas Cholid.

Sementara itu, Direktur Tehnik dan Operasional PT BBWM, Irfahuddin Zayadi mengatakan, bahwa program gas kota adalah pembangunan jaringan dan instalasi gas mengunakan pipa-pipa yang langsung didistribusikan ke rumah-rumah, mirip dengan instalasi air bersih. Menurut Irfah, pembangunan instalasi dan jaringan inilah yang akan memerlukan biaya besar. Untuk kebutuhan elpiji sendiri, Irfah yakin bahwa potensi gas yang dimiliki akan mampu memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat kabupaten Bekasi.
“Kita belum hitung angkanya. Dana pembangunan jaringan bisa berasal dari pemerintah daerah atau dari investor” kata Irfah.

Dalam kesempatan tersebut, PT. BBWM juga membagikan beasiswa sebesar Rp. 100.000.000, kepada 137 siswa berprestasi yang kurang mampu. Pemberian beasiswa ini merupakan program rutin yang diadakan setiap tahun sebagai bukti kepedulian PT. BBWM kepada masyarakat sekitar.

Belum Sebanding

Sementara itu, Ketua Bidang Advokasi Karang Taruna Kecamatan Babelan, Sumardi mengatakan, bahwa kegiatan eksplorasi Migas di wilayah Bebelan sejauh ini belum dirasakan manfaatnya secara nyata oleh masyarakat. Masyarakat, kata Sumardi, hanya mendapatkan efek negatifnya saja, seperti pencemaran udara dan kerusakan ekosistem lainnya. Sawah dan ladang yang seharusnya bisa ditanami, kini tercemar.

“Apa yang didapatkan oleh masyarakat, jelas tidak sebanding dengan dampak yang ditimbulkan. Katanya Bekasi kaya akan Migas, nyatanya masyarakatnya tetap saja miskin” kata Mardi.

Sejauh ini, imbuh Mardi, program yang dilakukan oleh PT. Pertamina, PT. Odira, maupun PT. BBWM belum menyentuh akar permasalahan masyarakat Babelan dan sekitarnya. Seharusnya, tegas Mardi, para perusahaan pengelola Migas tersebut mulai memikirkan pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pendidikan secara jangka panjang, dengan melibatkan komponen masyarakat.

“Kami berharap, para perusahaan yang melakukan kegiatan eksplorasi Migas di Babelan, harus lebih ditingkatkan lagi kepeduliannya terhadap kehidupan masyarakat” tegas Mardi.

Menanggapi perjanjian kerjasama antara PT. BBWM dan Petragas, anggota DPRD Kabupaten Bekasi, H. Sarbini mengatakan, bahwa sejauh ini dirinya selaku anggota DPRD belum pernah diberitahu secara resmi tentang hal tersebut. Padahal, menurut Sarbini, segala sesuatu yang menyangkut kebijakan strategis BUMD dengan pihak luar, sudah seharusnya DPRD mendapat pemberitahuan. “Tidak ada surat pemberitahuan atau apapun” ketus Sarbini.

Menurut Sarbini, DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat, berhak untuk mengetahui isi perjanjian antara PT. BBWM dan PT. Petragas. Pasalnya, kata Sarbini, BBWM adalah badan usaha milik daerah, bukan badan usaha milik kelompok atau golongan. Sarbini menilai, bahwa BBWM tidak memiliki etika kelembagaan dengan mengabaikan DPRD. “PT. BBWM tidak punya etika kelembagaan, dengan tidak memberitahu DPRD Kabupaten Bekasi” kata Sabini.

Sarbini berjanji, akan mengusulkan pemanggilan terhadap jajaran direksi PT. BBWM guna menjelaskan isi perjanjian dengan PT. Pertagas. “Usai pelantikan anggota DPRD Kabupaten Bekasi periode 2009-2014, yang akan dilaksanakan pada tanggal 05 Agustus 2009 mendatang, kita akan segera panggil jajaran direksi PT. BBWM” pungkas politisi asal PDI Perjuangan tersebut.

2.2 Faktor pendukung :

1.                  Faktor utamanya peningkatan laju inflasi di Jawa barat termasuk bekasi
2.                  program konversi minyak tanah ke gas elpiji, memberikan sumbangan inflasi pada beberapa ... harga air kemasan yang cukup tinggi terutama di Kota Bekasi pada triwulan. (bappeda.jabarprov.go.id)
Untuk menghindari mendapatkan produk di bawah standar yang rentan menyebabkan kebocoran gas, Tiko membeberkan ciri-ciri perangkat Elpiji yang bermutu SNI sekaligus cara perawatannya:

1. Tabung Elpiji

Ciri-Ciri yang Tepat

- Penampilan secara umum harus tampak mulus, tidak penyok, atau mengalami kerusakan. Seal cap (plastik pembungkus valve) masih terpasang dengan baik.
- Pemasangan valve, sisa ulirnya harus masih tampak berkisar tiga hingga lima uliran.
Rigi-rigi (bentuk permukaan) hasil las baik (halus dan mulus). Mutu pengelasan baik, tidak terdapat cacat seperti penyok atau retak.
- Penandaan pada sisi hand guard tabung dengan stamping ‘Diproduksi untuk Pertamina’, kode produksi pabrikan dan nomor seri, water capacity, tara weight, test pressure, bulan dan tahun pembuatan, berlabel SNI pada stamping product-nya.
- Lingkaran merah di sekitar neck ring dengan lebar pengecatan 20 +/- 1 mm, emboss logo Pertamina, sablon pada sisi hand guard, sablon bulan dan tahun uji selanjutnya.

2.3 Faktor penghambat :
Kepolisian Resor Metropolitan Bekasi, mencatat kasus ledakan gas (elpiji) di wilayah Kota dan Kabupaten Bekasi selama Januari hingga Juni 2010 berjumlah 17 kasus. Dikhawatirkan, kasus ini akan terus bertambah jika tabung elpiji palsu masih banyak beredar.
KAPOLRES Metro Bekasi Kombes Pol Imam Sugianto mengatakan, mayoritas kasus tersebut diakibatkan oleh faktor kebocoran selang gas dan kelalaian dari penggunanya. Hal ini juga tidak terlepas dari beredarnya tabung elpiji palsu atauyang dibuat tidak sesuai standar.
Dari 17 kasus itu, jelasnya, insiden ledakan tabung gas di Kota Bekasi tercatat lima kasus, sementara sisanya terjadi di wilayah Kabupaten Bekasi. Sedangkan dari sisi korbannya, untuk wilayah Kota Bekasi sebanyak tujuh orang, dua di antaranya meninggal dunia akibat luka bakar.
Mayoritas insiden ledakan gas, paparnya, dialami kalangan rumah tangga yang lalai menjaga keamanan penggunaan tabung. "Untuk itu, kita mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dalam menggunakan gas. Masyarakat juga diminta untuk memastikan bahwa tabung gas yang dibelinya asli atau sesuai standar dari Pertamina," ujarnya, Kamis (17/6).
Terkait beredarnya tabung gas palsu yang disinyalir menjadi pemicu ledakan gas. Pertamina meminta aparat kepolisian untuk mengungkap peredaran dan penjualan tabung gas palsu. "Kami bekerja sama dengan kepolisian dan telah menyampaikanindikasi adanya peredaran tabung di luar pesanan Pertamina," kata Wakil Presiden Komunikasi Pertamina, Basuki Trikora Putra, di Bekasi, Rabu (16/6).
Ia menyatakan, tidak tahu berapa persen peredaran tabung yang disinyalir palsu tersebut. Tabung ukuran 3 kg yang sudah dipesan Pertamina, saat ini berjumlah 45 juta tabung dan 15 juta tabung lagi untuk keperluan penggantian hingga tabung yang beredar berjumlah 60 juta.
Ia mengakui, peredaran tabung palsu tersebut sudah ditangani pihak kepolisian. Pihaknya telah memberikan ciri produk tabung Pertamina atau yang diproduksi untuk Pertamina. Ke dalam, ujarnya. Pertamina akan melakukan perbaikan internal dalam menghindari terjadinya kasus ledakan gas.
Sejauh ini, jelasnya, pembenahan yang telah dilakukan adalah dengan melakukan perbaikan kabel di SPBE, memasang stiker tabung "liquified petroleum gas" (elpiji) untuk menjadi perhatian bagi konsumen agar tetapwaspada, serta mengomunikasikan kembali penggunaan elpiji dengan baik dan benar. Selain itu, tabung gas juga akan di tes tckanannya dan bagi yang masih baik saja yang boleh digunakan. Kami akan tulis di setiap tabung tentang pengetesan kembali," ujarnya seperti dikutip dari Antara.
Basuki menegaskan, belum ada penyebab kebakaran yang disebabkan oleh tabung elpiji ukuran tiga kilogram . Ia menegaskan, berita-berita tentang adanya ledakan tabung itu tidak benar. "Ledakan terjadi akibat kebocoran gas pada selang atau pada kompor. Masih banyak masyarakat yang tidak paham dengan potensi bahaya dari gas hingga perlu terus dilakukan penyuluhan," ujarnya.
Basuki juga menegaskan, konversi minyak tanah ke gas yang telah dimulai sejak 2007 telah memberikan penghematan besar bagi negara. Pada 2009 saja, penghematan yang dilakukan sebesar RplO triliun sebelum diaudit, dan pada 2010 diperkirakan meningkat menjadi Rpl8 triliun,

Bab III
Untuk tabung ukuran 3 kg dan 12 kg
 Gas elpiji di wilayah bekasi
Kebutuhan masyarakat akan konsumsi gas elpiji saat ini semakin meningkat tajam. Hal tersebut terjadi seiring dengan adanya program pemerintah yang melakukan konversi dari minyak tanah ke gas elpiji. Kebutuhan akan gas yang berukuran 3 kg hingga 12 kg semakin tinggi di tingkat masyarakat kelas menengah hingga kelas atas sekalipun. Bahkan di banyak tempat, agen-agen minyak tanah kini telah beralih jalur menjadi agen gas elpiji.
Belum meratanya agen dan sub agen yang ada di berbagai daerah menjadi salah satu faktor kenapa menekuni bisnis ini cukup menjanjikan. Ada beberapa wilayah yang tidak memiliki sub agen yang dekat, sehingga ketika membutuhkan gas elpiji harus membeli ke agen yang jaraknya cukup jauh.
Konsumen
Sub agen gas elpiji 3kg banyak dicari masyarakat di daerah yang jauh dari agen elpiji. Karena penyebaran agen elpiji  belum merata sampai mencakup pelosaok daerah, sub agen membantu agen untuk menjangkau masyarakat di daerah – daerah. Biasanya gas elpiji 3kg banyak dicari para ibu  rumah tangga, para pedagang, serta sebagian besar masyarakat yang beralih dari bahan bakar minyak tanah maupun masyarakat yang pindah dari elpiji 12kg ke tabung gas 3kg yang lebih murah.


Bab IV Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan :
PEMERINTAH Kabupaten Bekasi,Senin (26/7) ini akan inspeksi mendadak ke sejumlah agen penjual gas elpiji menyusul maraknya ledakan tabung gas di wilayahnya.
Sejak konversi minyak (anah ke gas, menurut Wakil Bupati Bekasi HM Darip Mulyana telah terjadi sedikitnya 15 kasus ledakan tabung gas.
Sidak hari ini secara serentak di sejumlah pasar tradisonal maupun pusat pertokoan dengan melibatkan DPRD, Dinas Perindustrian, kepolisian, dan aparat Satpol PP.
Inspeksi mendadak ini, terang Darip, sekaligus nm nk memberikan terapi kejut terhadap sejumlah penjual nakal yang tidak melengkapi produknya dengan prosedur keamanan Standar Nasional Indonesia (SNI)
Saran :

Harus ada pembenahan yang telah dilakukan adalah dengan melakukan perbaikan kabel di SPBE, memasang stiker tabung "liquified petroleum gas" (elpiji) untuk menjadi perhatian bagi konsumen agar tetapwaspada, serta mengomunikasikan kembali penggunaan elpiji dengan baik dan benar. Selain itu, tabung gas juga akan di tes tckanannya dan bagi yang masih baik saja yang boleh digunakan. Dan lebih baik kita warga bekasi lebih baik memakai gas yg lebih praktis dari pada memakai minyak tanah yg sudah langka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar